Mostly 90% ibu rumah tangga pasti pernah terlintas pikiran untuk mempunyai usaha sampingan.

Hidup dengan satu income memang tidak mudah.

Lebih tidak mudah lagi harus bekerja di luar rumah.

Lebih dan lebih tidak mudah adalah memulai usaha sambil mengurus keluarga.

Sebuah penelitian dari Small Business Association (SBA) menyebutkan bahwa 30% bisnis gagal di tahun kedua, 50% gagal di tahun kelima, dan 66% gagal di tahun kesepuluh. Hanya 25% bisnis yang berhasil melewati tahun kelima belas.

So bagaimana dengan Bunda yang mau memulai bisnis sampingan dengan melihat data tersebut? Takut? Tidak perlu.

Mengapa? Karena kabar bagusnya, tidak semua bisnis dijalankan dengan baik dan benar dari awal. Penelitian menyebutkan bahwa dengan planning yang tepat, pendanaan yang cukup, dan fleksibilitas yang tinggi, sebuah bisnis dapat berhasil. Yeay!

Contohnya bunda Nadya yang membuka usaha sampingan bubur bayi Nayz. Dimulai dari gelar lapak bubur tiap pagi, kini bisnisnya berkembang hingga mendirikan PT yang cabangnya ada di seluruh Indonesia. Tidak hanya untuk diri sendiri, tapi beliau juga membantu banyak keluarga lain dalam bisnisnya yang semakin besar.

Ada juga bunda Fatmah Balawan dari NCC Cooking Club. Beliau membagi kemampuannya dalam masak memasak dengan membuka kursus memasak di rumah. Sekarang ia telah menerbitkan beberapa buku dan kursus masaknya mempunyai cabang di beberapa tempat.

Coba tengok marketplace (tokopedia, bukalapak, shopee) dan sosmed (facebook, instagram). Kini berjualan online semakin mudah dengan semakin terjangkaunya platform yang ada. Tak sedikit ibu-ibu yang berjualan media tersebut. Mulai dari usaha kecil dan dropship hingga usaha produksi besar.

Tampaknya mudah yang bun. Akan tetapi itulah yang kita lihat di akhir karena kita tidak mengetahui seberapa pengorbanan yang mereka lakukan di awal merintis usaha.

Ada yang kalah sebelum berperang, ada juga yang akhirnya menyerah.. Namun, tentunya tidak sedikit juga yang akhirnya berhasil seperti kedua bunda di atas dan banyak bunda lainnya.

Lantas, apakah bunda siap memulai usaha sampingan di rumah? Sebelumnya mari kita tengok dulu analisis penting yang perlu Bunda lakukan.

Berikut ini ringkasan 7 analisis penting sebelum memulai bisnis sampingan untuk ibu rumah tangga:

  1. Tentukan tujuan besar
  2. Target jangka pendek, menengah, dan panjang
  3. Skill yang sudah Bunda punya
  4. Skill yang mau Bunda pelajari
  5. Modal berupa uang, perlengkapan, dan tempat
  6. Waktu yang bersedia dikorbankan
  7. Sistem pendukung yang tersedia

 

1.      Tentukan tujuan besar

Memiliki tujuan yang jelas penting agar Bunda tidak mudah kehilangan semangat dan bisa terus menjaga komitmen selama menjalani usaha.  Usaha apapun tidak mungkin hanya lurus-lurus saja. Pasti akan ada high-days dan low days.

Contoh:

  • Liburan setiap tahun
  • Umroh/Haji
  • Beli mobil untuk antar anak-anak sekolah
  • Suami ga perlu lembur 5x seminggu
  • Dll

Se-simple itu.

Lebih bagus bisa ditambah SMART goal. Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Timely.

2.      Target jangka pendek, menengah, dan panjang

Setelah membuat tujuan besar (big picture), Bunda perlu memecahnya menjadi tujuan jangka panjang, menengah, dan pendek.

Tujuan jangka pendek berkisar 1-2 tahun, jangka menengah 2-5 tahun, dan jangka panjang sekitar 10 tahun.

Goals, jika dibuat bertahap seperti ini akan lebih mudah tercapai karena Bunda akan tahu apa baby steps yang perlu dilakukan. Langkah kecil yang tidak terlalu berat, tapi menuju ke tujuan besar.

Contoh:

  • Ingin naik haji Plus 10 tahun lagi. Ongkos naik haji Plus Rp100.000.000, berarti per tahun perlu profit minimal sebesar Rp10.000.000. Per bulan ‘hanya’ sebesar Rp833.333.
  • Beli mobil 5 tahun lagi (mobil sejuta umat tahun 2014). Harga Rp150.000.000. Berarti per tahun perlu Rp30.000.000. Per bulan profit minimal Rp2.500.000.

 

3.      Skill yang sudah bunda punya

Coba di-list apa saja keahlian yang sudah Bunda punya. Keahlian ini adalah sesuatu yang Bunda sudah mahir melakukannya, tanpa perlu belajar lagi.

Contoh:

  • Ahli masak
  • Jago gambar
  • Mantan akuntan (like me)
  • Lulusan sastra

 

4.      Skill yang mau bunda pelajari

Barangkali skill yang sudah Bunda list di atas karena satu dan lain hal tidak mungkin dilakukan saat ini. Sekarang saatnya brainstorming apa saja yang Bunda mau + bersedia + tertarik untuk mempelajarinya.

Contoh:

  • Ahli masak tapi sedang hamil.. tidak tahan cium bau masakan.. Solusinya, mungkin Bunda tertarik belajar jualan online.
  • Lulusan sastra, bisa terjemah dan mengajar bahasa asing.. Tapi sepertinya saat ini susah dapat klien.. Solusinya, mungkin Bunda mau belajar jahit.

 

5.      Modal berupa uang, perlengkapan, dan tempat

Modal untuk bisnis harus dipikirkan baik-baik agar tidak mengganggu keuangan keluarga. Karena sejatinya, uang modal untuk usaha adalah uang yang ‘siap hilang’.

Dana usaha bisa diperoleh dari berbagai sumber.

Contoh:

  • Menabung terlebih dahulu sebelum resign.
  • Hemat habis-habisan beberapa bulan sebelum memulai bisnis.

Perlengkapan dan tempat juga jangan lupa dihitung sebagai modal, ya Bun.

Contoh:

  • Untuk buka catering—mungkin Bunda sudah punya blender, kulkas, kompor..
  • Untuk penulis lepas—mungkin Bunda sudah punya laptop, wifi..
  • Untuk buka toko—mungkin Bunda bisa pakai garasi depan rumah..

 

6.      Waktu yang bersedia dikorbankan

Building business needs time. Begitu juga dengan usaha sampingan.

Perlu dipikirkan lagi berapa jam waktu yang bersedia Bunda korbankan setiap harinyaa–berapa jam dan kapan saja.

Contoh:

  • Biasanya tidur siang saat anak tidur siang. Sejak mulai bisnis tidak tidur siang lagi..
  • Biasanya 7 hari 24 jam penuh bersama anak.. Sejak mulai bisnis tiap weekend titip anak ke orangtua/mertua..

 

7.      Sistem pendukung yang tersedia

Suami? Mertua? Asisten rumah tangga? Babysitter? Daycare?

Supporting systems apa saja yang saat ini tersedia untuk Bunda manfaatkan agar mencapai tujuan? Things will be different setelah bunda memutuskan untuk berbisnis.

Contoh, misalnya Bunda tidak sempat cuci-setrika lagi setelah mulai bisnis, alternatifnya:

  • Laundry kiloan/bulanan
  • ART
  • Titip anak di daycare
  • Suami bisa jaga anak saat bunda sedang cuci-setrika.

Kesimpulan

7 analisis di atas perlu untuk Bunda pikirkan sebelum memulai bisnis. Sekali lagi, bohong (peace! 😀) jika ada yang bilang kerja di rumah itu gampang. Bisnis rumahan perlu komitmen yang saaaaangat kuat dan perencanaan yang tepat.

Flexibility is our new best friends.

Jangan berharap bisa menjalani semua seperti sebelumnya. Kerapihan rumah, laundry, dan tidur adalah tiga hal  pertama yang kemungkinan besar akan Bunda korbankan di awal merintis usaha dari rumah.

Jadi, apakah Bunda sudah siap memulai usaha sampingan dari rumah?

♡ Ahda

The following two tabs change content below.

Ahda Aditya

Hello! I'm a wife and mom of 3. Also a baby food online store owner and this blog creator. Love playing around with numbers. Love to read and sew and draw. Spending time with family is my ultimate happiness.. ♡

Latest posts by Ahda Aditya (see all)